Kamis, 10 November 2011

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN IBU NIFAS

 
MAKALAH  I

STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN IBU NIFAS

DISUSUN SEBAGAI TUGAS AKHIR
MATA AJARAN KEPERAWATAN MATERNITAS


OLEH
KELOMPOK D1
1.      ENDANG ABDULLAH
2.      I  WAYAN SURASTA
3.      GOSALI HASIBUAN
4.      SUHAERNINGSIH
5.      NENENG YULIAWATI
6.      ELIZABETH ESTI
7.      INA DEBORA R.L.








FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2002

KATA PENGANTAR

            Seraya mengucapkan puji syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha  Esa,  yang telah melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kami sehingga dapat menyusun materi seminar dengan judul : STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN.
            Tujuan penyusunan materi tersebut adalah sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah keperawatan maternitas.
            Pada kesempatan yang baik ini, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.        Dr. H. Azrul Azwar MPH, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, yang telah memberikan waktu kepada kami untuk melakukan praktek keperawatan maternitas.
2.        Dr. Heyder Tadjudin, selaku direktur Rumah sakit Umum Pusat Fatmawati, yang telah memberikan kesempatan dan lahan praktek bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan di RSUP Fatmawati.
3.        Dra. Setyowati, Skp. MApp.Sc. seaku kordinator mata kuliah maternitas.
4.        Dosen pembimbing klinik maternitas yang telah meluangkan waktu dan tenaga demi tersusunya dan terselenggaranya makalah seminar ini.
5.         Sejawat dan semua pihak yang banyak membantu demi terselesainya penulisan makalah seminar ini.
            Akhirnya kritik dan saran yang bersifat konstruktif kami harapkan untuk perbaikan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pelayanan kesehatan.
                                                                                      Jakarta, 28 Oktober 1996        

DAFTAR HALAMAN
                                                                                                Halaman
Kata pengantar
BAB I Pendahuluan                                                                    1
A. Latar belakang                                                                      1
B. Tujuan                                                                                    1
C. Metode penulisan                                                                   2
D. Sistematika penulisan                                                            2
BAB I, Tinjauan teoritis standar praktek keperawatan          3
A. Pengertian                                                                              3
B. Tujuan standar                                                                       4
C.  Penerapan standar praktek keperawatan                            5
D. Langkah-langkah penyusunan standar praktek
      keperawatan                                                                           6
E. Aspek hukum standar praktek keperawatan                         8
Contoh standar praktek (ANA,1991)                                          9
Bab III Penutup                                                                            13 

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG
            Pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya pelayanan keperawatan saat ini dihadapkan pada situasi yang menuntut peningkatan  mutu.   Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain ;  perkembangan teknologi  dibidang kesehatan, adanya tuntutan dari  penerima pelayanan kesehatan [masyarakat) yang semakin kritis serta semakin kompleksnya masalah kesehatan di Indonesia.
          Profesi  keperawatan bertanggung jawab terhadap  peningkatan  mutu  (kualitas) pelayanan keperawatan menuju pelayanan keperawatan yang profesional. Adapun faktor-faktor yang diperlukannya peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan karena citra dan mutu praktek keperawatan sering dipertanyakan dan diragukan (Sahar,J, 1996, h. 1), adanya perubahan sifat pelayanan keperawatan yang dulu bersifat okupasi menuju kearah pelayanan keperawatan profesional.
            Kualitas pelayanan keperatan dapat ditingkatkan melalui pengendalian mutu (Quality Assurance) yang memiliki tiga komponen yaitu : penentuan standar praktek keperawatan, pengawasan (monitor) dan evaluasi. Pelaksanaan pelayanan keperawatan akan dimonitor dan dievaluasi berdasarkan standar.     
B. TUJUAN
            Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah unutk mendesiminasikan konsep atau teori tentang standar praktek keperawatan.

C. METODE PENULISAN
            Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode deskripsi yang dicapai melalui studi kepustakaan dan diskusi kelompok.
D. SISTEMATIKA
            Sistematika penulisan makalah ini terbagi dalam tiga bagian. Bab I, berisi latar belakang, tujuan, metode dan sistematika penulisan makalah. Bab II, menguraikan landasan teoritis tentang definisi standar praktek keperawatan terdiri dari tujuan standar praktek keperawatan, jenis standar praktek keperawatan, langkah-langkah penyusunan standar praktek keperawatan dan aspek hukum standar praktek keperawatan. Bab III, penutup.       

BAB II
TINJAUAN TEORITIS STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
A. PENGERTIAN
            Standar adalah suatu pernyataan diskriptif yang menguraikan penampilan kerja yang dapat diukur melalui kualitas struktur, proses dan hasil (Gillies, 1989,h.121).
 Standar merupakan pernyataan yang mencakup kegiatan-kegiatan asuhan yang mengarah kepada praktek keperawatan profesional (ANA,1992,h.1)
            Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu dan kiat, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif , ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencakup kehidupan manusia (lokakarya Nasional 1983)            
            Standar praktek keperawatan adalah suatu pernyataan yang menguraikan suatu kualitas yang diinginkan terhadap pelyanan keperawatan yang diberikan untuk klien ( Gillies, 1989h. 121). Fokus utama standar praktek keperawatan adalah klien. Digunakan untuk mengetahui proses dan hasil pelayanan keperawatan yang diberikan dalam upaya mencapai pelayanan keperawatan. Melalui standar praktek dapat diketahui apakah intervensi atan tindakan keperawatan itu yang telah diberi sesuai dengan yang direncanakan dan apakah klien dapat mencapai tujuan yang diharapkan.  

Tipe standar praktek keperawatan
            Beberapa tipe standar telah digunakan untuk mengarahakan dan mengontrol praktek keperawatan. Standar dapat berbentuk ‘normatif’ yaitu menguraikan praktek keperawatan yang ideal yang menggambarkan penampilan perawat yang bermutu tinggi, standar  juga berbentuk ‘empiris’ yaitu menggambarkan praktek keperawatan berdasarkan hasil observasi pada sebagaian besar sarana pelayanan keperawatan (Gillies 1989,h.125).     

B.TUJUAN STANDAR
            Secara umum standar praktek keperawatan ditetapkan untuk meningkatkan asuhan atau pelayanan keperawatan dengan cara memfokuskan kegiatan atau proses pada usaha pelayanan untuk memenuhi kriteria pelayanan yang diharapkan. Penyusunan standar praktek keperawatan berguna bagi perawat,  rumah sakit/institusi,  klien, profesi keperawatan dan tenaga kesehatan lain.


1. Perawat
            Standar praktek keperawatan digunakan sebagi pedoman untuk membimbing perawat dalam penentuan tindakan keperawatan yang akan dilakukan teradap kien dan perlindungan dari kelalaian dalam melakukan tindakan keperawatan dengan membimbing perawat dalam melakukan tindakan keperawatan yang tepat dan benar.
2. Rumah sakit
            Dengan menggunakan standar praktek keperawatan akan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan keperawatan dapat menurun dengan singkat waktu perwatan di rumah sakit.
3.Klien
             Dengan perawatan yang tidak lama maka biaya yang ditanggung klien dan keluarga menjadi ringan.   
4. Profesi
            Sebagai alat perencanaan untuk mencapai target dan sebagai ukuran untuk mengevaluasi penampilan,  dimana standar sebagai alat pengontrolnya.
 5. Tenaga kesehatan lain
            Untuk mengetahui batas kewenangan dengan profesi lain sehingga dapat saling menghormati dan bekerja sama secara baik.
C. PENERAPAN STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
            Dalam penerapan standar praktek keperawatan dapat digunakan pendekatan secara umum dan khusus. Pendekatan secara umum menurut Jernigan and Young,1983 h.10 adalah sebagai berikut :
·        Standar struktur : berorientasi pada hubungan organisasi keperawatan ( semua level keperawatan ) dengan sarana/institusi rumah sakit. Standar ini terdiri dari : filosofi, tujuan, tata kerja organisasi, fasilitas dan kualifikasi perawat.
·        Standar proses : berorientasi pada perawat, khususnya ; metode, prinsip dan strategi yang digunakan perawat dalam asuhan keperawatan. Standar proses berhubungan dengan semua kegiatan asuhan keperawatan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
·        Standar hasil : berorientasi pada perubahan status kesehatan klien, berupa uraian kondisi klien yang dinginkan dan dapat dicapai sebagai hasil tindakan keperawatan.
 Pendekatan lain (khusus) dalam menyusun standar praktek keperawatan sesuai dengan aspek yang diinginkan antara lain :

1.      Aspek Asuhan keperawatan, dapat dipilih topik atau masalah keperawatan klien yang sering ditemukan, misalnya standar asuhan keperawatan klien anteatal, intranatal dan postnatal.
2.      Aspek pendidikan dapat dipilih paket penyuluhan/pendidikan kesehatan yang paling dibutuhkan, misalnya penyuluhan tentang perawatan payudara.
3.      Aspek kelompok klien, topik dapat dipilih berdasarkan kategori umur, masalah kesehatan tertentu misalnya; kelompok menopouse.
            Dalam penerapan standar prktek keperawatan dapt dimodifikasi keduanya dalam pelayanan asuhan keperawatan. Contoh : pelaksanaan standar asuhan keperawatan pada klien postnatal, perawat dapat mengunakan standar proses (metode, prinsip dan strategi dalam melaksanakan asuhan keperawatan.             
           
D. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN STANDAR PRKTEK KEPERAWATAN
            Penyusunan standar praktek keperawatan membutuhkan waktu lama karena ada beberapa langkah yang harus ditempuh diantaranya menentukan komite (tim penyusun), menentukan filosofi dan tujuan keperawatan, menghubungkan standar dengan teori keperawatan, menentukan topik dan format standar (Irawaty,1996,h.9)
Ada pendapat lain bahwa penyusunan standar secara otomatis dilakukan oleh tim maka langkah-langkah dalam penyusunan standar sebagai berikut : merumuskan filosofi dan tujuan, menghubungkan standar dan teori yang relevan, menetapkan topik dan format standar (Sahar,J, 1996)
            Adapun langkah-langkah penyusunan standar menurut Dewi Irawaty,1996 adalah 1. Menetukan komite (tim khusus)
            Penyusunan standar praktek keperawatan membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak, untuk itu perlu dibentuk tim penyusun. Tim penyusun terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengetahuan yang luas tentang pelayanan keperawatan.
2. Menentukan filosofi dan tujuan keperawatan.
            Filosofi  merupakan keyakinan dan nilai dasar yang dianut yang memberikan arti bagi seseorang dan berasal dari proses belajar sepanjang hidup melalui hubungan interpersonal, agama, pendidikan dan lingkungan. Didalam pembuatan standar, serangkaian tujuan keperawatan perlu ditetapkan berdasarkan filosofi yang diyakini oleh profesi.
3. Menghubungkan standar dan teori keperawatan.
            Teori yang dipilih amat bermanfaat dalam merencanakan standar, mengarahkan dan menilai praktek keperawatan. Konsep-konsep keperawatan dapat digunakan untuk menilai kembali tentang teori keperawatan yang telah dipilih sebelumnya. Ada beberapa teori yang dapat dipilih dan disepakati oleh kelompok pembuat standar keperawatan misalnya; teori Orem. Inti dari teori Orem adalah adanya kepercayaan bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri (Self Care).
Perawat profesional bertanggung jawab dalam membantu klien untuk dapat melakukan perawatan mandiri, dengan melihat kemampuan yang dimiliki klien. Berdasarkan teori tersebut maka dapat digunakan sebagai landasan dalam mengembangkan standar praktek keperawatan.
4. Menentukan topik dan format standar
            Topik-topik yang telah ditentukan disesuaikan pada aspek-aspek penyusunan standar misalnya ; aspek asuhan keperawatan, pendidikan dan kelompok klien atau yang bersifat umum yaitu menggunakan pendekatan meliputi standar struktur, standar proses dan standar hasil.
            Format standar tergantung dari cara pendekatan yang dipilih sebelumnya dan topik standar yang telah ditentukan. Apabila standar praktek keperawatan yang digunakan adalah pendekatan standar proses maka format standar yang dipakai adalah format standar ANA 1991 terdiri dari enam tahap yang meliputi ; pengkajian , diagnosa, identifikasi hasil, perencanan, implementasi dan evaluasi.              
Karena standar merupakan pendekatan sistematis yang terencana dalam praktek keperawatan maka diharapkan bahwa pelayanan keperawatan yang diberikan pada klien juga termasuk pendekatan diri klien dan keluarganya.

E. ASPEK HUKUM STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN
            Dengan diberlakukannya standar praktek keperawatan, maka institusi memberikan kesempatan pada klien untuk mengontrol asuhan keperawatan yang diberikan perawat pada klien. Apabila klien tidak mendapat pelayanan yang memuaskan atau klien dirugikan karena kelalaian perawat maka klien dan keluarga mempunyai hak untuk bertanya dan menuntut.
            Dinegara maju dimana standar ini telah diberlakukan maka kekuatatan hukumnya sangat kuat. Apabila perawat melakukan kelalaian karena tindakan yang menyimpang dari standar maka perawat dianggap melanggar hukum dan harus dituntut pertanggung jawabannya. Oleh karena itu setiap perawat harus betul-betul memahami standar praktek keperawatan agar dapat memberikan pelayanan yang bermutu pada klien.
Sebagai contoh, Jensen dan Bobak mengemukakan hukum of Torts yang memuat tentang  kegiatan yang dikehendaki dari perawat : mencegah penyakit mata pada bayi baru lahir, mendokumentasikan penyakit akibat hubungan seksual.
            Pada pasal 53 ayat 2 dan 4 Undang-undang kesehatan Nomer 23 tahun 1992, dinyatakan bahwa “tenaga kesehatan termasuk perawat dalam melakukan tugasnya berkewajiban mematuhi standar profesi dan menghormati hak klien”. Dari uraian tersebut jelaslahbahwa standar profesi keperawatan mempunyai dasar hukum dan barang siapa yang melanggar akan menerima sangsi atau hukuman.
            Dimensi praktek profesional adalah adanya sistem etik. Etik adalah standar untuk menentukan benar atau salah dan untuk pengambilan keputusan tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh dan terhadap manusia. (Wijayarini M.A,1996,h.13) .  

CONTOH STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN KLINIS ( ANA,1991,h..9 )
Standar  I : Pengkajian
Perawat mengidentifikasi dan pengumpulan data tentang status kesehatan klien. Pengkajian ini darus lengkap, sistematis dan berkelanjutan. 
 Kriteria pengukuran :
1.      Prioritas pengumpulan data ditentukan oleh kondisi atau kebutuhan-kebutuhan klien saat ini.
2.      Data tetap dikumpulkan dengan tehnik-tehnik pengkajian yang sesuai .
3.      Pengumpulan data melibatkan klien, orang-orang terdekat klien dan petugas  kesehatan..
4.      Proses pengumpulan data bersifat sistematis dan berkesinambungan.
5.      Data-data yang relevan didokumentasikan dalam bentuk yang mudah  didapatkan  kembali.
Standar II :Diagnosa
Perawat menganalisa data yang dikaji untuk menentukan diagnosa.
Kriteria pengukuran :
1.      Diagnosa ditetapkan  dari data hasil pengkajian.
2.      Diagnosa disahkan dengan klien, orang-orang terdekat klien, tenaga kesehatan bila memungkinkan.
3.      Diagnosa di dokumentasikan dengan cara yang memudahkan perencanaan perawatan.
Standar III : Identifikasi hasil
Perawat mengidentifikasi hasil yang diharapkan secara individual pada klien.
Kriteria pengukuran :
1.      Hasil diambil dari diagnosa.
2.      Hasil-hasil didokumentasikan sebagai tujuan-tujuan yang dapat diukur.
3.      Hasil-hasil dirumuskan satu sama lain sama klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan.
4.      Hasil harus nyata (realistis)  sesuai dengan kemampuan/kapasitas klien saat ini dan kemampuan potensial.
5.      Hasil yang diharapkan dapat dicapai dsesuai dengan  sumber-sumber yang tersedia bagi klien.
6.      Hasil yang diharapkan meliputi perkiraan waktu  pencapaian.
7.   Hasil yang diharapkan memberi arah bagi keanjutan perawatan.
Standar IV : Perencanaan
Perawat menetapkan  suatu rencana keperawatan yang menggambarkan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Kriteria pengukuran :
1.      Rencana bersifat individuali sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan kondisi klien.
2.      Rencana tersebut dikembangkan bersama  klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan.
3.      Rencana tersebut menggambarkan praktek keperawatan sekarang
4.      Rencana tersebut didokumentasikan.
5.   Rencana tersebut harus menunjukkan kelanjutan perawatan.

Standar V : Implementasi
Perawat mengimplementasikan intervensi yang diidentifikasi dari rencana keperawatan.
Kriteria pengukuran :
1.      Intervensi bersifat konsisten dengan rencana perawatan yang dibuat.
2.      Intervensi diimplementasikan dengan cara yang aman dan tepat.
3.      Intervensi didokumentasikan
Standar VI : Evaluasi
Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap hasil yang telah dicapai.
Kriteria pengukuran :
1.      Evaluasi bersifat sistematis dan berkesinambungan.
2.      Respon klien terhadap intervensi didokumentasikan.
3.      Keefektifan intervensi dievaluasi dalam kaitannya dengan hasil.
4.      Pengkajian terhadap data yang bersifat kesinambungan digunakan untuk merevisi diagnosa, hasil-hasil dan rencana perawatan untuk selanjutnya,
5.      Revisi diagnosa, hasil dan  rencana perawatan didokumentasikan.
6.      Klien, orang-orang terdekat klien dan petugas kesehatan dilibatkan dalam proses evaluasi 

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
            Penyusunan standar praktek keperawatan merupakan suatu kewajiban bagi profesi keperawatan, karena standar berfungsi sebagai alat untuk perencanaan dan evaluasi penampilan praktek keperawatan sehingga dicapai pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi.
            Dengan ada dan berlakunya standar praktek keperawatan akan melindungi klien terhadap tindakan yang merugikan klien sebagai akibat dari kelalaian perawat. Dan sebaliknya melindungi perawat terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan.
            Mengingat penyusunan standar tersebut tidak sederhana perlu disusun tim untuk merumuskan filosofi, tujuan, teori yang mendasar, topik dan format standar.
            Dengan tersusun dan diberlakukannya standar praktek keperawatan diharapkan akan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dimasa yang akan datang.
B. SARAN
            Dalam penyusunan standar praktek keperawatan hendaknya disamping menggunakan pendekatan normatif juga mengguankan pendekatan empiris
            Dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan hendaknya keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan berdasarkan standar keperawatan.
            Untuk menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan maka standar keperawatan perlu direvisi secara teratur

DAFTAR PUSTAKA
American Nurses Associatiob,(1991), Standards  Of Clinical Nursing Practice,   Whasington, DC, American Nurse Publising.

Gillies, (1989), (1989), Nursing Management, Philadelphia, W.B. Souders           company  

Irawaty, D, (1996), Makalah Standar Praktek Keperawatan, FIK, tidak dipublikasikan

Jernigan and Young, (1983), Standards, job discription and Performance evaluation,      Norwalk : Appleton Century Croft.

Lokakarya Nasional Keperawatan, (1983), Makalah Keperawatan, Jakarta, tidak        dipublikasikan

Wijayarini,M.A, Skp, MSN, (1996), Konsep Perawat Profesional, tidak dipublikasikan   

MAKALAH II STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN NIFAS


MAKALAH  II
STANDAR  PRAKTEK KEPERAWATAN NIFAS

DISUSUN SEBAGAI TUGAS AKHIR
MATA AJARAN KEPERAWATAN MATERNITAS


OLEH
KELOMPOK D1







FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
1996

KATA PENGANTAR

            Seraya mengucapkan puji syukur  kehadirat Tuhan Yang Maha  Esa,  yang telah melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kami sehingga dapat menyusun materi seminar dengan judul : STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN IBU NIFAS.
            Tujuan penyusunan materi tersebut adalah sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah keperawatan maternitas.
            Pada kesempatan yang baik ini, tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Dr. H. Azrul Azwar MPH, selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, yang telah memberikan waktu kepada kami untuk melakukan praktek keperawatan maternitas.
2.      Dr. Heyder Tadjudin, selaku direktur Rumah sakit Umum Pusat Fatmawati, yang telah memberikan kesempatan dan lahan praktek bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan di RSUP Fatmawati.
3.      Dra. Setyowati, Skp. MApp.Sc. seaku kordinator mata kuliah maternitas.
4.      Dosen pembimbing klinik maternitas yang telah meluangkan waktu dan tenaga demi tersusunya dan terselenggaranya makalah seminar ini.
5.       Sejawat dan semua pihak yang banyak membantu demi terselesainya penulisan makalah seminar ini.
            Akhirnya kritik dan saran yang bersifat konstruktif kami harapkan untuk perbaikan dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pelayanan kesehatan.

                                                                                    Jakarta, 28 Oktober 1996        

BAB I 
 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Kematian ibu maternal di Indonesia masih merupakan masalah nasional. Data  yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik, angka kematian maternal di
 Indonesia pada tahun l986 adalah  450/l00.000 dan pada tahun l996  390/l00.000
 kelahiran hidup ( Jakarta Post, 21 Oktober 1996 ). Angka ini 3-6 kali lebih tinggi dibanding negara-negara di Asean. Hal ini menunjukkan perlunya usaha lintas program dan lintas sektoral untuk menurunkan angka kematian ibu.
            Sesuai definisi WHO “Kematian maternal itu sendiri dapat didefinisikan sebagai berikut kematian seorang wanita waktu hamil atau 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun, terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilan.” (Sarwono, 1996).
            Beberapa faktor telah diidentifikasi dapat menyebabkan  kematian maternal, diantaranya adalah masalah yang terjadi pada masa nifas seperti perdarahan post partum, infeksi masa nifas , kurangnya pengetahuan dan keterampilan ibu dalam rangka pemeliharaan kesehatan masa nifas. 
            Sistem pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang turut bertanggungjawab untuk mencegah masalah diatas.  Salah satunya  adalah meningkatkan pelayanan keperawatan terhadap ibu nifas. Agar pelayanan keperawatan  menjadi optimal tentunya dibutuhkan suatu standar praktek keperawatan.

B.  Tujuan pembuatan makalah
            Untuk mendeminasikan pengetahuan kepada peserta seminar, agar  dapat menambah pengetahuan tentang  standar asuhan keperawatan khususnya  keperawatan maternitas. 

C. Sistematika penulisan
            Untuk makalah seminar ini sistematika penulisannya adalah sebagai berikut
BAB   I   Pendahuluan, yang berisi tentang latar belakang masalah , tujuan dan                   sistematika penulisan.
BAB  II   Penyusunan standar asuhan keperawatan nifas.
 BAB  III  Penutup terdiri dari  kesimpulan dan saran.

BAB  II
STANDAR ASUHAN KEPERAWATAN NIFAS.

             Dari hasil wawancara dengan 30 orang ibu nifas diruang perawatan postpartum RSUP Fatmawati didapatkan beberapa  masalah keperawatan ibu nifas. Masalah keperawatan yang diidentifikasi meliputi kurangnya pengetahuan dan keterampilan ibu nifas tentang cara  merawat payu dara, perineum, meneteki yang benar, nutrisi, program KB. Perawatan bayi meliputi ; immunisasi, merawat tali pusat dan memandikan, cara mengganti popok, persaingan antar saudara(sibling) mengenal tanda - tanda bahaya.    Apabila masalah-masalah keperawatan diatas muncul akan menimbulkan suatu masalah kesehatan dan dapat meningkatkan morbiditas  ibu nifas, ini akan menyebabkan waktu dan biaya perawatan masa nifas akan meningkat, yang berarti bisa menimbulkan angka kematian ibu dan bayi. Masalah -masalah keperawatan yang timbul pada masa nifas diatas sebetulnya  dapat dicegah dengan memberikan  asuhan keperawatan yang baik dan benar sesuai kewenangan perawat. Standar praktek asuhan keperawatan nifas
 disusun untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan merupakan suatu kewenangan melakukan tindakan keperawatan. Tipe standar yang digunakan untuk membuat standar asuhan keperawatan nifas pada makalah ini menggunakan tipe standar normatif,  berorientasi kepada praktek keperawatan ideal yang harus diberikan kepada klien nifas.
            Dengan  pendekatan ini  penyusunan  standar praktek asuhan keperawatan nifas digunakan pendekatan proses keperawatan  meliputi ; Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Identifikasi hasil yang diharapkan, Perencanaan, Implementasi, dan Evaluasi (ANA, 1991)
            Teori keperawatan yang digunakan adalah teori “Self Care Deficit” yang dikemukakan oleh  Dorothea Orem. Filosofi Orem dikatakan bahwa manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan dalam merawat dirinya sendiri. Yang dimaksud dengan self care(perawatan mandiri) adalah aktivitas seseorang untuk menolong dirinya sendiri dalam mempertahankan hidup, kesehatan dan kesejahteraan. Teori keperawatan ini digunakan sebagai dasar dalam memberikan asuhan keperawatan nifas. Perawat profesional bertanggung jawab dalam membantu klien dan keluarga untuk mencapai kemandiriannya.  Kemandirian ibu nifas bisa tercapai bila kegiatan asuhan keperawatan didasari adanya kerjasama yang baik antara  perawat dalam memberikan pengetahuan dan motivasi kepada ibu nifas dalam memenuhi kebutuhan klien ibu nifas.
            Beberapa keuntungan dalam teori bagi ibu nifas  yaitu pengetahuan akan meningkat dan akhirnya ibu dan keluarga akan mandiri dalam pemeliharaan kesehatannya. Kemandirian pada ibu nifas sangatlah penting  karena setelah pulang, keluarga  harus mampu merawat untuk mempertahankan kesehatan dan kesejahteraannya.
            Berikut ini penyusunan standart asuhan keperawatan ibu nifas dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (ANA, 1991).
Pendekatan standar asuhan keperawatan infus dengan menggunakan format proses keperawatan ( ANA, 1991 ) adalah :
A. Standar I. Pengkajian
Pengumpulan data tentang status kesehatan  klien nifas ditentukan oleh kondisi/kebutuhan klien saat ini. Pengumpulan data ini dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan dengan menggunakan tehnik-tehnik pengkajian yang tepat dengan  melibatkan klien,  keluarga dan tenaga kesehatan lain.  Data yang diperoleh dikomunikasikan dan dicatat secara lengkap.
1. Riwayat ibu nifas  mencakup :
    a. Wawancara
         - Kebiasaan
         - Makanan dan cairan
         - Perubahan berat badan
         - Pola istirahat  dan tidur
         - Toleransi aktivitas
     b. Pengkajian psikologi
         - Status emosional
         - Pola koping
         - Persepsi terhadap keadaan pasien
     c. Pengkajian fisik
         - Personal higiene
         - Status nutrisi
         - Nyeri
         - Tanda-tanda vital
         - Keadaan fisik pada ibu  nifas  adalah :
              * Payu dara
                 - Kekenyalan
                 - Puting susu
               * Abdomen
                 - Diastasis recti abdominis
                 - Striae
               * Gastro intestinal
                  - Peristaltik
               * Uterus
                   - Tinggi fundus uteri
                   - Kontraksi
               * Perkemihan
                   - Frekuensi dalam 24 jam pertama
               * Lochea 
                   -  Warna
                   -  Encer \ kental
                   -  Bau
                   -  Jumlah

2. Pengumpulan data dari sumber
    - Pasien, keluarga, orang yang terdekat
    - Petugas kesehatan lain

3. Cara pengumpulan data menggunakan metode
    - Wawancara
    - Observasi
    - Inspeksi
    - Auskultasi
    - Palpasi

Standar II  Diagnosa
            Diagnosa keperawatan dirumuskan berdasarkan data status kesehatan yang dikaji dari klien dan keluarga bersama petugas kesehatan.Data  tersebut dikomunikasikan dan dicatat untuk memudahkan penentuan hasil dan perencanaan perawatan yang dilaksanakan.
Rasional :
Status kesehatan klien nifas dan keluarga merupakan dasar untuk menentukan  kebutuhan asuhan keperawatan. Data dianalisa dan dibandingkan dengan nilai normal.

Kriteria Pengukuran
1.      Status kesehatan klien nifas dibandingkan dengan keadaan normal untuk menentukan adanya penyimpangan.
2.      Kemampuan dan keterbatasan klien dan keluarga diidentifikasi.
3.      Diagnosa keperawatan berkaitan dan selaras dengan diagnosa yang dibuat oleh profesi lain yang memberi  asuhan pada klien dan keluarga.

            Diagnosa yang sering timbul pada masa nifas antara lain (Bobak, IM Ana Jenzen)
1.      Nyeri sehubungan  dengan :
·        Involusi uterus
·        Trauma perineum
·        Episiotomi
·        Perdarahan
·        Pembengkakan payudara
2.       Kurangnya volume cairan sehubungan  dengan
·        Perdarahan post partum
3.      Konstipasi dan retensio urine sehubungan dengan
·        Ketidak nyamanan post partum
·        Trauma jaringan atau otot-otot  spincter karena persalinan
4.      Resiko cedera sehubungan dengan
·        perdarahan postpartum
·        efek anestesi
5.      resiko tinggi infeksi sehubungan dengan
·        trauma jaringan setelah melahirkan
6.      Gangguan tidur sehubungan dengan
·        Kenyamanan postpartum
·        Proses persalinan yang lemah
·        Merawat bayi
7.      Tidak efektifnya memberikan makan pada bayi sehubungan dengan
·        gangguan rasa nyaman
·        respon normal fisiologis
8.      menurunnya harga diri sehubungan dengan
·        pengalaman persalinan yang lalu
9.      Gangguan menjadi orang tua sehubungan dengan
·        kurangnya pengetahuan dalam merawat bayi
10.  Cemas sehubungan dengan
·        kurangnya pengetahuan tentang perawatan mandiri 

Standar III  Identifikasi hasil
            Identifikasi hasil ditetapkan dari diagnosa keperawatan berdasarkan kriteria yang dapat diukur dan dirumuskan dengan melibatkan klien, keluarga dan orang yang terdekat bersifat realistis dalam hubungannya dengan kemampuan klien saat ini dan bersifat potensial.
            Hasil dapat dicapai sesuai dengan sumber  yang tersedia bagi klien.  Untuk mencapai hasil harus ditetapkan pula target waktu pencapaian.
Rasional :
Pemantapan hasil yang dicapai merupakan bagian terpenting dari perencanaan asuhan keperawatan,
Kriteria  Pengukuran:
1.      Hasil ditetapkan dari diagnosa
2.      Dirumuskan bersama klien, keluarga dan tenaga kesehatan lain bila memungkinkan.
3.      Hasil harus nyata sesuai dengan kemampuan klien saat ini dan kemampuan potensial
4.      Hasil apat dicapai sesuai dengan sumber yang tersedia bagi klien.
5.      Hasil didokumentasikan sebagai tujuan yang dapat diukur meliputi perkiraan waktu pencapaian dan memberi arah bagi kelanjutan keperawatan.  
Pada asuhan keperawatan klien nifas dan keluarga dapat ditetapkan kriteria hasil sesuai dengan diagnosa keperawatan
Kriteria hasil :
1.      Tinggi fundus uteri 
1-2 jari pertengahan sympisis dan umbilikus, (selama ± 2 hari akan turun 1 ruas jari per hari). Setelah 9-10 hari uterus tidak teraba diatas sympisis.
2.      Involusi uterus kembali normal setelah 6 minggu.
3.      Perineum dikaji setiap 8 jam dengan posisi sims untuk observasi REEDA
4.      Lochea
5.      Payudara, produksi laktasi kolostrum pada hari ke 2 dan ke 3
puting susu menonjol keluar, kebersihannya, tidak ada tanda infeksi
6.      Abdomen, pada postpartum tonus menurun, lembek,longgar dan lemas, striae alba/nigra, adanya pemisahan otot rectus abdominis pada dua minggu pertama postpartum
7.      Gastrointestinal. pada 2 - 3 hari  umumnya terjadi konstipasi. Klien merasa sangat haus dan lapar
8.      Traktus urinarius, BAK dalam 24 jam pertama terjadi diuresis, B.a.k. harus dalam 6-8 jam setelah melahirkan.
9.      Ektremitas bawah, tidak adanya tromboflebitis dan tromboemboli.
10.  Istirahat dan tidur, tidak mengalami kesulitan.
11.  Psikososial, melihat kemampuan adapatasi ibu menurut Rubbin.
·        Taking in, timbul pada jam pertama kelahiran sampai 2-3 hari
Refleksi tentang kehamilan dan proses persalinan
Berfokus pada diri sendiri, perlu tidur dan makan
Dependen tergantung dan pasif
Bertanya-tanya tentang bayinya
·        Taking hold. fasenya sampai dengan dua minggu
Merawat diri sendiri
Tidak sabar atas ketidak nyamananya
Fokus melibatkan bayi dan ingin merawat (independen)
Dapat menerima tanggung jawab
Waktu yang baik untuk penyuluhan
·        Letting go, fase 3-4 minggu
Merasa ada yang hilang karena tidak hamil
Memandang bayi sebagai bagian dari dirinya yang terpisah
Emosional
·        Sosial keluarga
Respon ayah
Adaptasi sibling
Interaksi keluarga
Adanya pembagian tugas       

Standar IV Perencanaan
            Perencanaan asuhan keperawatan menggambarkan intervensi untuk mencapai hasil yang diharapkan, perencaan ini meliputi tujuan yang dibuat berdasarkan asuhan keperawatan, prioritas dan pendekatan-pendekatan tindakan keperawatan yang ditetapkan.
Rasional :
Tindakan keperawatan direncanakan untuk meningkatkan, memelihara dan memperbaiki kesejahteraan klien.
Perencanaan terhadap aktivitas, pergerakan tubuh istirahat/tidur dan keamanan.
1.      Hygiene dan kenyamanan fisik yang meliputi :
·        Kebutuhan kebersihan tubuh
·        Perawatan mulut
·        Perawatan rambut
·        Perawatan buah dada
·        Perawatan perineum
·        Perawatan rektal
·        Kebersihan tempat tidur
2.      Aktivitas dan kegiatan tubuh yang meliputi :
·        Ambulasi
·        Latihan aktif maupun pasif
·        Posisi yang menyenangkan
3.      Istirahat dan tidur
4.       Keamanan, meliputi :
·        Perhatian keamanan klien pada saat melakukan pergerakan.
·        Keamanan klien pada saat dipindahkan
·        Perhatikan kondisi lingkungan yang membahayakan klien.
·        Mencegah infeksi.
·        Rambu-rambu tanda keamanan.
·        Menggunakan alat pengaman pada pemakaian alat elektronik.
·        Gunakan label pada tempat obat yang dipergunakan.
Untuk memenuhi kebutuhan pemeliharaan nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit, eliminasi, kebutuhan oksigen, mekanisme regulasi, fungsi kognitif/sensori, respon fisiologis dan terapi dan lainnya. Menetapkan intervensi diperlukan untuk mengetahui respon tubuh selama kehamilan dan melahirkan .
1.      Nutrisi, keseimbangan cairan dan elektrolit
·        Catat cairan yang keluar dan masuk
·        Status elektrolit diperoleh dari pengkajian klien dan hasil laboratorium
·        Kaji terapi intra vena jika klien mendapatkan Intra vena Fluid Drip (IVFD)
2.      Eliminasi  :
·        Buang air besar
·        Kaji eliminasi
·        Kaji pemberian laksatif
3.      Perkemihan
·        kaji pemberian diuretik
·        Kaji drainase vagina
4.      Fungsi kognitif/sensori
·        Mengkaji persepsi sensori secara baik
5.      Respon fisiologis
·        Observasi : warna kulit, tanda vital, kesadaran, reaksi verbal dan tinggi fundus uteri.
Perawat memberikan dukungan pada klien dan keluarga untuk reaksi emosional klien postpartum.
1.      Kebutuhan emosional :
·        Memberikan dukungan pada klien
·        Respek terhadap klien
·        Sebagai pendengar yang baik
·        Observasi dan mencatat tingkah laku
·        Berikan dorongan pada keluarga
2.      Kebutuhan spiritual :
·        Bantu klien untuk informasi pelayanan religius yang ada di rumah sakit
·        Perawat membantu klien dan keluarga selama fase pertengahan postpartum
·        Dapat mengambil keputusan untuk memnuhi kebutuhan klien.
3.      Informasikan dan motivasi kepada klien dan keluarga :
·        Membantu dalam orientasi lingkungan
·        Memberitahukan klien sebelum dilakukan pemeriksaan
·        Mengembangkan rencana perawatan klien
·        Demonstrasikan perawatan mandiri selama periode postpartum dan perawatan bayi selama perioda infant
·        Bantu klien dan keluarga dalam perawatan dirumah
·        Belajar secara menetail tentang situasi hidup dan kembali kearah realita
·        Rencanakan rujukan bila perlu
·        Diskusikan rencana selanjutnya dengan anggota kesehatan lain, klien dan anggota keluarga.

Standar V Implementasi
            Implementasi merupakan intervensi yang diidentifikasi dari rencana keperawatan bersifat konsisten dengan rencana  keperawatan yang dibuat serta didokumentasikan.
Rasional :
Klien dan keluarga secara terus-menerus dilibatkan dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan dan pemeliharaan kesehatan.
Kriteria :
1.      Tindakan keperawatan  :
·        Konsiten dengan rencana asuhan keperawatan.
·        Didasarkan pada prinsip ilmiah
·        Bersifat individu spesifik untuk situasi tertentu
·        Digunakan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan terapiutik
·        Memberikan kesempatan belajar mengajar pada klien
·        Memanfaatkan berbagai sumber yang tepat
2.      Tindakan keperawatan ditentukan oleh kondisi fisik, fisiologis, psikologis dan perilaku sosial klien. 

Standar VI Evaluasi
            Evaluasi bersifat sistematis dan berkesinambungan yang digunakan untuk merevisi diagnosa hasil dan rencana keperawatan yang dibutuhkan berdasarkan respon klien terhadap intervensi yang didokumentasikan.
Dalam evaluasi ini klien, keluarga dan petugas kesehatan ikut terlibat.
Rasional :
Proses keperawatan tetap sama tetapi masukan berupa informasi baru dapat mengarahkan kepada pendekatan baru.
Kriteria Pengukuran :
1.      Pengkajian ulang diarahkan oleh tercapai tidaknya tujuan.
2.      Prioritas dan tujuan baru diterapkan secara pendekatan keperawatan lebih lanjut dilakukan dengan tepat dan akurat.
3.      Tindakan keperawatan yang baru ditetapkan dengan tepat dan cermat.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
            Perawat dapat mensukseskan program nasional yakni menurunkan angka kematian maternal yang tinggi dengan cara memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas / profesional. Oleh karena itu perawat bertanggung jawab untuk melakukan asuhan keperawatan berdasarkan standart praktek keperawatan yang ditetapkan oleh institusi.
            Standart praktek keperawatan ibu nifas diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan disuatu institusi penyusunan ini.
            Tipe standar asuhan keperawatan nifas yang disajikan adalah tipe normatif yang dijadikan sebagai pedoman. Pelaksanaan asuhan keperawatan yang ideal terhadap masalah-masalah nifas dengan menggunakan standar proses, secara sistematis mulai dari pengkajian, menentukan diagnosa keperawatan, mengidentifikasi masalah, membuat perencanaan, menentukan implementasi sampai melakukan evaluasi terhadap ibu nifas.
            Teori keperawatan menggunakan teori  self care deficit  dari Orem menekankan perawatan mandiri dari ibu nifas dan keluarga. Dengan demikian  ibu dan keluarga mampu mengembangkan kemandiriannya dalam memelihara kesehatan dan kesejahteraanya.

B. SARAN
            Untuk menjalankan standar asuhan keperawatan nifas seyogyanya dilakukan secara kerjasama dengan tenaga kesehatan lain dan klien serta disesuaikan dengan keadaan setempat.    
            Agar pelaksanaan asuhan keperawatan dapat dilaksanakan dengan maksimal dan standart praktek keperawatan nifas disusun dengan cara kerja sama yang didukung oleh institusi keperawatan.
            Dengan menggunakan  standar praktek keperawatan nifas secara konseptual sesuai standar proses pada klien nifas kami menyarankan untuk rekan-rekan seprofesi, untuk melaksanakannya sebagai landasan dalam melakukan asuhan keprawatan.
            Melaksanakan standar praktek asuhan keperawatan nifas dengan penuh rasa tanggung jawab dan profesional.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

            Beare, P. G. ed.(1994). Davis’s NCLEX - PN Review,  hal 367-368. Philadelphia. FA Davis Company.

            Haris, C. H. (1993)., Legal and Ethical Issues. dalam Bobak, I. M dan  Jenzen, M.D  Maternity and Gynecologid Care: The Nurse and The Family. ed. 5. st. Louis. CV Mosby Co.

            ANA.  (1991). Standart of Clinical Nursing Practise, Washington, D. C, American Nurses Publishing.

            Orem, D. E. (1971), Nursing Concepts of Practise, New York Mc. Graw - Hill

            Prawiroharjo. S  (1992), Ilmu Kebidanan, Jakarta.Yayasan Bina Pustaka.

            Irawati, D. (1996), Standart Praktek Keperawatan, Tidak dipublikasikan,  Jakarta; Bahan Kuliah FIK-UI.

            Sahar, J. (1996), Standart Praktek Keperawatan, Disampaikan pada kuliah Manejement Keperawatan, Jakarta. FIK - UI